Oleh: Cucu Rohyana
Keberagaman agama di Indonesia tidak hanya terlihat dari perbedaan tempat ibadah dan tata cara peribadatan, tetapi juga dari beragam tradisi yang hidup dan diwariskan oleh masing-masing umat. Salah satunya adalah tradisi Mooncake atau kue bulan yang dikenal dalam kehidupan masyarakat Tionghoa dan berkaitan dengan pelaksanaan sembahyang pada momentum bulan purnama.
Mooncake memiliki bentuk bulat menyerupai bulan. Dalam tradisi yang berkembang di masyarakat, bentuk tersebut tidak sekadar berkaitan dengan makanan, tetapi juga mengandung simbol tentang keutuhan, kebersamaan, kasih sayang, kesetiaan, dan kerinduan terhadap orang-orang yang dicintai.
Salah satu cerita rakyat yang populer dan sering dikaitkan dengan tradisi Mooncake adalah legenda Hou Yi dan Chang Er.
Dikisahkan, pada zaman dahulu bumi memiliki sepuluh matahari yang menyebabkan panas dan kekeringan. Seorang pemanah ulung bernama Hou Yi kemudian berhasil memanah sembilan matahari sehingga hanya tersisa satu. Atas jasanya tersebut, ia memperoleh ramuan yang diyakini dapat memberikan keabadian.
Namun, Hou Yi tidak segera meminum ramuan tersebut. Ia menyimpannya. Dalam kisah tersebut, seorang bernama Feng Meng berusaha mendapatkan ramuan itu. Untuk mencegah ramuan jatuh ke tangan orang yang berniat jahat, istri Hou Yi, Chang Er, kemudian meminumnya.
Setelah meminum ramuan tersebut, tubuh Chang Er menjadi ringan dan ia terbang menuju bulan. Dalam legenda itu, Chang Er kemudian dikenal sebagai Dewi Bulan.
Hou Yi sangat bersedih karena harus berpisah dengan istrinya. Pada suatu malam ketika bulan tampak penuh dan terang, ia menyiapkan altar di tempat terbuka. Di atasnya diletakkan buah-buahan dan kue berbentuk bulat yang menjadi makanan kesukaan Chang Er. Hou Yi melakukan penghormatan sambil memandang bulan sebagai ungkapan kerinduan kepada istrinya.
Kisah tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu cerita yang menyertai tradisi Mooncake. Kue bulan dipandang sebagai simbol kesetiaan dan cinta. Bentuknya yang bulat juga mengingatkan pada bulan purnama dan menjadi simbol keutuhan serta kebersamaan keluarga.
Dalam pelaksanaannya, pada malam peringatan Mooncake umat yang menjalankan tradisi tersebut melakukan sembahyang. Altar disiapkan di tempat terbuka dengan posisi menghadap ke arah bulan. Kue bulan, buah-buahan, dan perlengkapan persembahyangan lainnya disiapkan sebagai bagian dari persembahan sesuai dengan tradisi yang dijalankan.
Bulan purnama menjadi bagian penting dalam suasana ritual tersebut. Cahaya bulan menjadi pengingat terhadap kisah Chang Er sekaligus menghadirkan simbol kerinduan dan kasih sayang. Ritual tersebut menjadi salah satu cara umat untuk menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Setelah sembahyang selesai, kue bulan kemudian dibagikan kepada umat yang hadir. Pembagian tersebut menghadirkan suasana kebersamaan. Persembahan yang sebelumnya ditempatkan di altar kemudian dinikmati bersama sebagai bagian dari hubungan sosial dan kekeluargaan.
Di balik tradisi tersebut terdapat pesan sederhana tentang pentingnya menjaga kasih sayang dan hubungan dengan orang-orang yang dicintai. Kisah Hou Yi dan Chang Er menggambarkan kerinduan akibat perpisahan, sementara kebersamaan dalam menikmati Mooncake mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan keluarga dan sesama.
Tradisi keagamaan seperti Mooncake juga memperlihatkan bahwa praktik keagamaan sering kali hadir berdampingan dengan budaya dan kehidupan sosial masyarakat. Sebuah ritual tidak hanya memiliki dimensi peribadatan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarmanusia.

Mooncake pada akhirnya bukan hanya cerita tentang sebuah kue berbentuk bulat atau legenda tentang Hou Yi dan Chang Er. Di dalam tradisi tersebut terdapat kisah tentang kesetiaan, cinta, kerinduan, penghormatan, dan kebersamaan. Nilai-nilai kemanusiaan semacam itu dapat menjadi jembatan untuk saling memahami di tengah masyarakat Indonesia yang beragam.