Sendang sebagai sumber mata air seluruh warga merupakan tempat yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat sekitar salah satunya adalah sendang Mbeji. Sendang Mbeji yang berlokasi Parang Reja, Girijati, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Tempat ini memiliki keunikan dan mitos tentang legenda Jakatarub dan dewi Nawangwulan. Konon mata air sendang beji dipercaya memiliki kekuatan untuk meremajakan kulit. Selain kepercayaan tentang mitos yang beredar sendang beji juga digunakan untuk tempat ritual dari berbagai kalangan kepercayaan. Pepohonan yang rindang serta aliran air yang menenangkan merupakan saksi bisu roda perputaran kehidupan masyarakat baik secara ekonomi maupun pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Bahkan kehadiran sendang di tengah-tengah masyarakat tidak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan suplai air masyarakat akan tetapi juga sebagai pemenuhan nilai-nilai spiritual sebagian masyarakat hal ini dibuktikan dengan adanya kuil Dewa Ganesha diatas sendang serta berdirinya Mushalla disampingnya. Menurut juru Kunci Tugiman menyatakan bahwasannya seringkali masyarakat yang datang ke sendang ini berasal dari luar kota dengan hajat tertentu. Ada yang datang untuk hanya sekedar menepi, mendapatkan wangsit, memohon sesuatu, bahkan melakukan praktek ritual-ritual tertentu sesuai dengan kepercayaan agama masing-masing salah satunya adalah kegiatan Padusan yang selalu diadakan ketika memasuki bulan muharram. Kemudian kegiatan bersih kali yang diadakan satu tahun sekali diikuti dengan acara kenduren (slametan) yang menyajikan berbagai macam jajanan dan makanan kemudian sajian tersebut didoakan oleh para tetuah adat kemudian dimakan secara bersama-sama. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk pengharapan kepada yang maha kuasa terhadap keberlangsungan sendang yang telah memberikan kehidupan kepada masyarakat sekitar baik dalam pemenuhan kebutuhan suplai air maupun sebagai sumber irigasi sawah masyarakat.
Suasana yang rindang serta tenang menjadi pilihan sebagian orang untuk menunaikan ibadah serta ritual yang dipercayai sehingga kehadiran sendang mbeji menjadi salah satu ikonik masyarakat Parang Reja yang telah hadir beratus-ratus tahun. Akan tetapi Akses ke Sendang ini terbilang sulit, jalanan yang berbatu dan tidak adanya penerangan menyulitkan masyarakat serta para pengunjung untuk masuk kedalamnya padahal ketika masyarakat ingin masuk untuk berkunjung akan dikenakan tarif sebanyak lima ribu rupiah sehingga harapannya pemerintah dan pengurus setempat memperhatikan fasilitas dan akses untuk keselamatan pengunjung.