Pantai Parangtritis sore itu riuh oleh warga yang membawa gunungan hasil bumi. Ada yang merapalkan doa dalam bahasa Arab, ada yang merapalnya dengan kidung Jawa, dan ada yang hening dalam meditasinya. Tradisi Sedekah Laut ini bukan sekadar urusan mistis atau wisata, melainkan ruang perjumpaan.
Di atas pasir pantai yang hitam, semua identitas melebur. Mereka tidak saling tanya
siapa Tuhanmu?
melainkan
apa yang bisa kita syukuri hari ini?
Samudra di selatan Jogja itu seolah menjadi pengingat: seberapa pun bedanya arus sungai di daratan, mereka semua bermuara pada hamparan air yang sama.
Suara Pembaca
Bagaimana artikel ini menurut Anda?
Pilih satu reaksi untuk menampilkan respons Anda. Hasil akan langsung diperbarui setelah pilihan dikirim.