Feature Terbit Kamis, 30 Juli 2026
3x dibaca

Sekolah Toleransi sebagai wadah keberagaman dalam membentuk persatuan dalam diri Generasi Muda

Sekolah Toleransi sebagai wadah keberagaman dalam membentuk persatuan dalam diri Generasi Muda 4 menit waktu baca

Terkadang pembelajaran tidak hanya di dapatkan di dalam ruang kelas saja akan tetapi seringkali pembelajaran diadakan di luar kelas salah satu pembelajaran luar kelas yang diadakan oleh Prod. Studi Agama-agama yaitu Sekolah Toleransi. Sekolah Toleransi yang sering disebut ST adalah salah satu acara tahunan yang diselenggarakan oleh HMPS Studi Agama-agama, fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kegiatan ini diselenggarakan pada semester awal perkuliahan mahasiswa baru dengan harapan mahasiswa prodi. Studi Agama-agama dapat  mengenal terlebih dahulu dengan keberagaman Agama serta memberikan gambaran, khususnya tentang beberapa rumah ibadah agama yang diakui oleh Negara Indonesia. disamping ketika perkuliahan berlangsung kelak mahasiswa akan dituntut untuk lebih memahami tentang berbagai agama diseluruh dunia baik dari segi Teologi, Praktik ritual, dan berbagai kebudayaan serta instansi keagamaan masing-masing agama tersebut.

Acara tersebut biasanya diadakan selama dua hari satu malam dengan menyewa sebuah villa di Kaliurang sebagai pusat kegiatan. Pada hari pertama mahasiswa diajak untuk menghadiri sebuah seminar keberagamaan dengan mengundang beberapa narasumber lintas agama. Pada seminar tersebut para narasumber membahas sebuah tema yang dibawakan dengan pemahaman masing-masing agama. Seringkali para narasumber yang diundang ialah para Romo, Pendeta, Biksu, Bikhuni, dan Kyai untuk menjadi Narasumber pada kegiatan tersebut. Kemudian setelah acara seminar usai  mahasiswa diajak untuk berdiskusi tentang materi yang telah dipaparakan pada forum FGD Forum Grup Discussion  dengan harapan mahasiswa dapat mengimplementasikan serta menyampaikan pemahamannya terhadap pembahasan tema yang telah disampaikan oleh para narasumber. Kemudian pada malam harinya dilanjutkan dengan kumpul bersama dan pentas seni yang ditampilkan oleh masing-masing kelompok biasanya kelompok terdiri atas 4-5 orang. Pentas dilakukan untuk mengukur keterampilan mahasiswa sekaligus sebagai hiburan malam yang menyenangkan bagi setiap peserta Sekolah Toleransi. Serta dilanjutkan pada ke esokan harinya yakni kunjungan rumah-rumah ibadah di daerah Jogja. Pada tahun lalu panitia sekolah toleransi mengadakan kunjungan ke Gereja Fransiskus xaverius, Mesjid Gedhe Kauman dan klenteng Fuk Ling Miauw yang berada di tengah kota Jogja. Pada hari itu para peserta di perkenalkan dengan isi masing-masing rumah ibadah, kegiatan jamaat serta adanya pertukaran dialog antar agama yang memancing rasa penasaran bagi setiap peserta sekolah Toleransi.

Kunjungan pertama dilakukan di Masjid Gedhe Kauman yang dibuka dengan pengenalan terhadap sejarah masjid yang dipaparkan oleh kesekretariatan masjid Gedhe Kauman, Singkatnya Masjid Gedhe Kauman didirikan pada 29 Mei 1773 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kyai Penghulu Faqih Ibrahim. Terletak di barat Alun-alun Utara Yogyakarta, masjid ini tidak hanya menjadi pusat syiar agama dan budaya Kerajaan Yogyakarta, tetapi juga menjadi tempat lahirnya organisasi Islam Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan. Selanjutnya para peserta khususnya mahasiswa diajak untuk berziarah ke Makam Nyai Dahlan yang terletak dibelakang kawasan masjid Gedhe Kauman dan ditutup dengan sholat dzuhur serta makan siang bersama. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Gereja Fransiskus Xaverius yang terletak ditengah-tengah kota Yogyakarta. Kegiatan dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Rm. Ignasius Sukawalyana, Pr. Didalam sambutannya Rm. Ignasius menyampaikan terimakasihnya kepada para panitia yang telah menyempatkan kunjungannya ke Gereja Fransiskus Xaverius dan menjelaskan tentang sejarah berdiri gereja serta perkembangannya dari masa ke masa. Kemudian kunjungan Gereja di tutup dengan jamuan yang diberikan oleh pihak gereja dan foto bersama. Dan terakhri perjalanan dilanjutkan menuju klenteng Fuk Ling Miauw yang bersebrangan dengan ujung jalan Gereja Fransiskus Xaverius. Bangunan cina ontentik dengan berbagai ukiran, Patung dewa dan gambar khas Cina menggambarkan tradisi yang dijaga serius secara turun temurun menambah kekhusyuan para umat Budha dan konghucu yang sedang berdoa di dalam klenteng. Para peserta di jelaskan tentang sejarah berdirinya klenteng serta tata cara beribadah umat menariknya para peserta juga diajak untuk ikut mencoba beberapa praktik ritual seperti ciam si yakni Seseorang yang bingung menentukan pilihan akan berlutut dan mengocok tabung berisi bilah-bilah bambu berangka sampai ada satu bilah yang jatuh. Nomor pada bilah tersebut kemudian ditukarkan dengan lembaran kertas puisi yang berisi jawaban atau nasehat atas pilihan hidupnya yang kemudian kunjungan ditutup dengan foto bersama dan pemberian cideramata untuk para pengurus klenteng yang sudah menemani dan menerima kunjungan mahasiswa SAA UIN Sunan Kalijaga pada kesempatan Sekolah Toleransi kali ini.

Demikian rangkaian acara Sekolah Toleransi yang diadakan oleh HMPS Studi Agama-agama UIN Sunan Kalijaga yang harapannya dapat menjadi wadah pemahaman  keberagaman keagamaan sekaligus silaturahmi antar lintas agama dalam memperkuat Kesatuan dan persatuan antar umat beragama.WhatsApp Image 2026-07-30 at 10.49.34

Suara Pembaca

Bagaimana artikel ini menurut Anda?

Pilih satu reaksi untuk menampilkan respons Anda. Hasil akan langsung diperbarui setelah pilihan dikirim.
Total Respons 1
Pilih reaksi untuk artikel ini.

Bagikan Artikel Ini

Pilih platform atau salin tautan langsung.

Preview artikel Sekolah Toleransi sebagai wadah keberagaman dalam membentuk persatuan dalam diri Generasi Muda

Smart Share Preview

Sekolah Toleransi sebagai wadah keberagaman dalam membentuk persatuan dalam diri Generasi Muda

Salin link atau bagikan langsung ke aplikasi.

Artikel Sebelumnya Sendang Mbeji sebagai fasilitator dalam Dinamika keberagaman masyarakat