Menjaga kerukunan umat beragama hari ini jauh lebih menantang daripada satu dekade lalu. Jika dulu konflik antariman sering kali dipicu oleh pergesekan fisik atau sengketa wilayah, kini benih perpecahan justru bermula dari ujung jempol dan layar ponsel. Di era digital, toleransi bukan lagi sekadar sikap diam saat tetangga beribadah, melainkan sebuah "seni" menyaring informasi dan mengelola emosi di tengah banjir narasi yang provokatif.
Kita saat ini hidup dalam apa yang disebut sebagai echo chamber atau ruang gema. Algoritma media sosial cenderung mempertemukan kita hanya dengan orang-orang yang berpikiran sama, menyukai hal yang sama, dan memeluk keyakinan yang sama. Dampaknya fatal: kita menjadi merasa bahwa kelompok kitalah yang paling benar, sementara kelompok lain terlihat asing, aneh, bahkan mengancam. Fenomena ini membuat fanatisme buta tumbuh subur tanpa filter, sehingga perbedaan tafsir agama yang kecil bisa meledak menjadi permusuhan besar hanya karena satu unggahan yang dipotong konteksnya (cherry-picking).
Oleh karena itu, merawat toleransi di era ini membutuhkan literasi digital yang berkelindan dengan kearifan spiritual. Kerukunan sejati bukan lagi soal berdiri berdampingan saat upacara formal saja, melainkan tentang kemampuan kita untuk berhenti menjadi "hakim" di kolom komentar. Kita perlu melatih diri untuk tidak mudah terprovokasi oleh konten-konten yang menggunakan sentimen agama sebagai alat pendulang clickbait atau kepentingan politik sesaat.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya menjadi jembatan, bukan tembok. Jika kita bisa menggunakan internet untuk belajar tentang keindahan tradisi agama lain langsung dari sumbernya, mengapa kita justru menggunakannya untuk memvalidasi kebencian? Seni merawat toleransi adalah seni untuk tetap menjadi manusia yang utuh di dunia maya; yang mampu melihat bahwa di balik setiap akun yang berbeda keyakinan dengan kita, ada sosok manusia yang memiliki hak, perasaan, dan martabat yang sama untuk dihormati.