Opini Terbit Selasa, 28 April 2026
24x dibaca

Di Balik Sajadah Menemukan Tuhan dalam Riuh Dunia Oleh: Tomzy Arzuleo

Di Balik Sajadah Menemukan Tuhan dalam Riuh Dunia Oleh: Tomzy Arzuleo 3 menit waktu baca

Kehidupan manusia modern sering kali terjebak dalam dikotomi yang keliru kita menganggap Tuhan hanya ada di dalam rumah ibadah dan dunia sepenuhnya milik kita di luar sana. Kita seolah memiliki sakelar spiritual yang hanya dinyalakan saat dahi menyentuh sajadah atau saat air mata tumpah karena himpitan beban hidup. Namun, benarkah mendekatkan diri pada Allah hanya menjadi agenda darurat saat kita tak berdaya?

Sejatinya, kedekatan dengan Sang Khalik bukanlah sebuah destinasi yang hanya dikunjungi saat musim duka. Ia adalah sebuah perjalanan rasa yang melampaui simbol-simbol rituall.

Banyak dari kita yang merasa sudah selesai dengan Tuhan setelah menunaikan kewajiban formal. Padahal, mendekatkan diri dalam segala situasi menuntut kehadiran hati di setiap detak aktivitas. Saat seorang profesional bekerja dengan integritas tinggi karena merasa diawasi Allah (muraqabah), di situlah kedekatan itu nyata. Saat seorang ibu bersabar mengasuh anaknya dengan niat menjaga amanah langit, di situlah spiritualitas sedang membumi.

Tuhan tidak hanya menunggu kita di keheningan sepertiga malam Ia hadir di tengah hiruk-pikuk pasar, di balik meja kantor hingga di dalam kemacetan yang menguras emosi. Tantangannya adalah mampukah kita menjaga "antena" hati agar tetap terhubung dengan-Nya di tengah bisingnya ambisi dunia?

Keseimbangan antara syukur dan sabar merupakan Dua kutub utama kehidupan adalah pemberian dan pengambilan. Ironisnya, manusia sering gagal di keduanya. Saat berada di puncak sukses, kita kerap terserang amnesia spiritual merasa semua adalah hasil jerih payah sendiri hingga ego melambung tinggi. Sebaliknya, saat kehilangan, kita dengan mudah menghakimi takdir seolah Tuhan tidak adil.

Mendekatkan diri pada Allah berarti membangun mentalitas yang stabil Syukur bukan sekadar ucapan di bibir saat untung, melainkan komitmen untuk tetap rendah hati saat di atas. Begitu pula sabar, bukan berarti menyerah tanpa syarat, melainkan menjaga sangka baik bahwa di balik setiap kesulitan, ada skenario yang lebih besar yang sedang dirajut oleh-Nya.

Saat ini kita berada Di era distraksi digital yang mana jempol kita lebih sibuk menggulir layar daripada menghitung zikir, kita kehilangan makna hening. Mendekatkan diri pada Allah membutuhkan keberanian untuk sesekali mematikan kebisingan dunia. Kita butuh jeda batin.

Jeda itu tidak harus berupa uzlah ke gunungIa bisa berupa napas panjang yang dibarengi istigfar saat tekanan kerja memuncak, atau tatapan penuh syukur saat melihat orang tua. Keheningan batin inilah yang menjadi benteng agar jiwa kita tidak kering di tengah materialisme yang kian gersang.

Mendekatkan diri pada Allah adalah pelabuhan bagi hati yang lelah dan kompas bagi jiwa yang tersesat dalam euforia. Situasi apa pun yang kita hadapi puncak kejayaan yang menyilaukan atau lembah duka yang gelap hanyalah dekorasi sementara.

Pada akhirnya, bukan seberapa besar pencapaian dunia kita yang akan ditanya, melainkan seberapa sering nama-Nya bergetar di hati kita saat menjalani semua itu. Sebab, sedekat apa pun kita dengan dunia, hanya kedekatan dengan Allah yang mampu memberikan rasa aman yang abadi.

Suara Pembaca

Bagaimana artikel ini menurut Anda?

Pilih satu reaksi untuk menampilkan respons Anda. Hasil akan langsung diperbarui setelah pilihan dikirim.
Total Respons 1
Pilih reaksi untuk artikel ini.

Bagikan Artikel Ini

Pilih platform atau salin tautan langsung.

Preview artikel Di Balik Sajadah Menemukan Tuhan dalam Riuh Dunia Oleh: Tomzy Arzuleo

Smart Share Preview

Di Balik Sajadah Menemukan Tuhan dalam Riuh Dunia Oleh: Tomzy Arzuleo

Salin link atau bagikan langsung ke aplikasi.

Artikel Sebelumnya Krisis Kedalaman: Mengapa Generasi Muda Kita Rentan Terbelah?