Feature Terbit Rabu, 08 April 2026
5x dibaca

Mangayubagya 80 tahun Yuswo Dalem Sri Sultan HB X: Merawat Harmoni dari DIY

Mangayubagya 80 tahun Yuswo Dalem Sri Sultan HB X: Merawat Harmoni dari DIY 4 menit waktu baca

Dalam tradisi Jawa, angka bukan sekadar bilangan matematis, melainkan sarat makna simbolik, filosofis, bahkan spiritual. Peringatan usia ke-80 (wolong puluh, bahasa Jawa) memiliki kedalaman makna yang tidak sederhana. Dalam konteks ini, Yuswo 80 tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X dapat dibaca sebagai fase puncak kematangan jiwa dan kebijaksanaan hidup. Berdasarkan kajian antropologi dan filsafat Jawa seperti Koentjaraningrat, 1984; Magnis-Suseno, 1984; Mulder, 1978, makna usia 80 (wolong puluh) tidak dipahami secara numerik semata, tetapi sebagai simbol pencapaian kesempurnaan pengalaman hidup dan kematangan spiritual.

Mangayubagya 80 tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X bukan sekadar momentum seremonial. Ini menjadi titik refleksi atas sebuah model kepemimpinan yang kian langka, kemampuan merawat agama tanpa mematikan budaya, dan menjaga budaya tanpa menanggalkan nilai-nilai agama. Di tengah dunia yang kerap terbelah antara konservatisme keagamaan dan sekularisme budaya, Daerah Istimewa Yogyakarta menghadirkan jalan tengah/moderat yang hidup bukan sekadar konsep, tetapi praktik sosial yang nyata. DIY menjadi kaca benggala cermin bagi daerah lain di Indonesia.


Clifford Geertz Antropolog Amerika dalam karyanya The Interpretation of Cultures (1973) menegaskan bahwa agama adalah “sistem simbol” yang membentuk makna hidup manusia. Dalam konteks DIY, agama tidak tampil dalam wajah yang kaku, tetapi membumi dalam tradisi seperti Sekaten, Grebeg, dan berbagai ritus keraton. Apa yang dilakukan Sultan sesungguhnya menghidupkan tesis Geertz, bahwa agama akan kuat justru ketika ia hadir dalam simbol dan praktik budaya yang dipahami masyarakatnya.

Gagasan ini berkelindan dengan pemikiran Gus Dur, Abdurrahman Wahid dalam buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006) menekankan pentingnya “pribumisasi Islam”, bahwa Islam tidak perlu menjadi Arab untuk menjadi otentik, tetapi cukup menjadi rahmat bagi realitas lokal. DIY, di bawah kepemimpinan Sultan, adalah contoh konkret dari Islam yang membumi itu, yang menjadi dialektika harmonis. Hal ini senada dengan cendekiawan Muslim Eropa Tariq Ramadan dalam Western Muslims and the Future of Islam (2004) yang berbicara tentang “Islam kontekstual” bahwa kemampuan umat Islam untuk hidup selaras dengan budaya lokal tanpa kehilangan prinsip dasar ajaran.

Koentjaraningrat (1985) menjelaskan bahwa budaya adalah sistem nilai yang menjadi pedoman hidup masyarakat. Ketika budaya dijaga, sesungguhnya yang dijaga adalah arah peradaban itu sendiri. Kraton Yogyakarta tidak hanya melestarikan tari, busana, atau upacara adat, tetapi juga menjaga filosofi hidup yang harmoni, keseimbangan, dan keselarasan antara manusia, alam, dan Tuhan, Hamemayu Hayuning Bawana. Nilai-nilai inilah yang membuat masyarakat tetap memiliki jangkar di tengah arus globalisasi. Pandangan ini diperkuat oleh lembaga dunia UNESCO dalam dokumen Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage (2003), yang menekankan bahwa warisan budaya tak benda adalah kunci keberlanjutan identitas dan kohesi sosial.

Kepemimpinan yang Berakar dan Berwibawa

Kepemimpinan Sri Sultan jika ditarik ke ranah teori sosial, sosiolog Jerman Max Weber dalam Economy and Society (1922) menyebut adanya otoritas kharismatik menjadi legitimasi dan rekognisi yang lahir dari kepercayaan masyarakat terhadap figur pemimpin. Kepemimpinan Sultan tidak hanya sah secara konstitusional, tetapi juga memperoleh legitimasi kultural dan spiritual. Beliau dihormati bukan semata karena jabatan, tetapi karena perannya sebagai penjaga nilai. Di sinilah letak kekuatan DIY, kekuasaan tidak berdiri di atas paksaan, tetapi pada kepercayaan.

Dalam konteks kepemimpinan Jawa, usia 80 tahun mencerminkan fase pranata agung, yaitu figur yang tidak lagi sekadar memimpin secara struktural, tetapi menjadi sumber nilai dan arah. Dalam bahasa Jawa, Wolu (8) sering dimaknai sebagai lambang kawolu-kawolu sebagai kesempurnaan arah (kiblat papat lima pancer) yang telah dilampaui, sedangkan Puluh menunjukkan satu siklus panjang perjalanan hidup. Secara filosofis, wolu puluh menggambarkan sosok yang telah “ngliwati sakabehing arah urip” melewati berbagai ujian kehidupan dari segala penjuru, dan mencapai titik kawicaksanan(kebijaksanaan).

Dari D.I. Yogyakarta untuk Dunia

Di belahan dunia hari ini menghadapi krisis identitas dan fragmentasi sosial. Konflik sering muncul karena kegagalan memadukan agama dan budaya. Dalam situasi seperti ini, model Yogyakarta menjadi relevan secara global. Apa yang ditunjukkan Sri Sultan Hamengku Buwono X adalah bahwa modernitas tidak harus menghapus tradisi, dan religiusitas tidak harus menolak budaya. Keduanya bisa berjalan beriringan, bahkan saling menguatkan.

Mangayubagyo 80 tahun Yuswo Dalem Sri Sultan X ini bukan hanya milik DIY. Ia adalah pengingat bahwa harmoni itu bahwa ada kepemimpinan yang mampu memahami akar budaya sekaligus menjangkau nilai universal. Dan dari tanah Jawa DIY ini, dunia belajar bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kebijaksanaan dalam merawat makna. DIY menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi sumber daya strategis untuk diplomasi global (cultural diplomacy).

Nderek Mangayubagya 80 tahun Yuswo Dalem Sri Sultan HB X “Mugi pinaringan panjang yuswa, sehat wal afiat, kebak berkah lan manfaat. Dados pepadhang tumraping liyan.” Semoga dianugerahi umur panjang, kesehatan, penuh berkah dan manfaat, menjadi cahaya bagi sesama.

Dr H. Nur Ahmad Ghojali S.Ag, M.A.

Analis Kebijakan Ahli Madya

Kanwil Kemenag DIY

Anggota FKUB DIY

Suara Pembaca

Bagaimana artikel ini menurut Anda?

Pilih satu reaksi untuk menampilkan respons Anda. Hasil akan langsung diperbarui setelah pilihan dikirim.
Total Respons 0
Pilih reaksi untuk artikel ini.

Bagikan Artikel Ini

Pilih platform atau salin tautan langsung.

Preview artikel Mangayubagya 80 tahun Yuswo Dalem Sri Sultan HB X: Merawat Harmoni dari DIY

Smart Share Preview

Mangayubagya 80 tahun Yuswo Dalem Sri Sultan HB X: Merawat Harmoni dari DIY

Salin link atau bagikan langsung ke aplikasi.

Artikel Sebelumnya Sedekah Laut: Saat Doa-Doa Beragam Mengalir ke Samudra yang Sama