Jika Anda ingin melihat wajah asli toleransi Yogyakarta, datanglah ke Pasar Beringharjo pada jam sepuluh pagi. Di antara tumpukan kain batik dan aroma rempah yang menyengat, ada ritme kehidupan yang tidak peduli pada sekat keyakinan.
Di sebuah lorong sempit, seorang pedagang Tionghoa terlihat sibuk membungkus pesanan pelanggannya. Di sampingnya, seorang ibu berhijab yang menjual jamu tradisional dengan setia menjaga barang dagangan tetangganya itu saat si pedagang pergi untuk bersembahyang. Tak ada kontrak tertulis, tak ada paksaan. Hanya rasa saling percaya yang sudah terpupuk selama puluhan tahun.
"Kami ini sudah seperti keluarga, Mbak. Kalau dia sakit, saya yang sedih. Kalau saya hajatan, dia yang repot bantu," ujar Bu Parmi, penjual jamu tersebut.

Suasana riuh pasar menjadi musik latar bagi kehidupan yang moderat. Di sini, transaksi tidak menanyakan apa agamamu, dan bantuan tidak melihat siapa Tuhanmu. Pasar Beringharjo menjadi saksi bisu bahwa di tengah hiruk-pikuk ekonomi, kemanusiaan tetap menjadi mata uang yang paling berharga. Saat malam jatuh dan pasar tutup, mereka pulang ke rumah masing-masing dengan doa yang berbeda, namun dengan rasa syukur yang sama sebagai sesama warga Jogja.